Menjalankan ‘Pelet’ Lewat Kontak Pikiran

djengasih.com - Kepercayaan tradisional mempercayai bahwa segala aktifitas perpeletan melibatkan unsur khodam (pembantu gaib). Pelet dengan metode ini akan bekerja begitu cepat. Namun, masa pengaruhnya juga tidak lama. Biasanya hanya 35 hari (sepasar dalam bahasa Jawa).

Setelah itu, reaksi pelet mulai menipis dan mendekati hari ke-40, korban mulai netral secara alami, kecuali jika si pelaku pellet melakukan ‘isi ulang’ dengan membaca mantra dan menjalankan tahapan ritual seperti di awal pelaksanaannya dulu.

Namun sebagian kalangan tidak begitu meyakini jikakekuatan pelet tersebut hanya melibatkan unsur metafisik semata tanpa bisa dijabarkan dengan pendekatan keilmuan. Sebab, menurut pemahaman mereka, dengan membangkitkan kekuatan alam bawah sadar, seseorang bisa mengakses energi yang ‘bertebaran’ di alam semesta ini.

Dengan kekuatan alam bawah sadar, seseorang bisa melakukan komunikasi bawah sadar. Yakni memengaruhi pikiran orang lain tanpa harus berbicara dan dari jarak yang jauh. Dan hal tersebut dilakukan dengan konsepsi cara kerja otak manusia yang bisa mengirimkan energi melalui gelombang pikiran.

Komunikasi yang dilakukan dalam jarak jauh tersebut memanfaatkan ruang dimenasi subyektif, yaitu dalam alam pikiran bawah sadar melalui gelombang alfa.

Hal tersebut bisa terjadi karena adanya fakta bahwa pikiran manusia saling terhubung oleh gelombang otak dalam dimensi subyektif dan dapat saling mempengaruhi.

Komunikasi subyektif dilakukan tanpa bertemu langsung dengan target atau dari jarak jauh. Karena namanya juga komunikasi subyektif maka komunikasinya terjadi di alam subyektif.

Kontak pikiran

Dan karena itu untuk melakukan komunikasi subyektif hal pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan kontak pikiran. Setelah terjadi kontak pikiran kita sudah bisa melakukan komunikasi dalam kondisi alfa.

Kunci keberhasilan dalam mempraktekan komunikasi subyektif ditentukan oleh sifat dan sikap si pelaku. Ada beberapa sikap yang harus dipertahankan saat mempraktekan komunikasi subyektif, yakni;

- Tenang, tidak menggebu-gebu.

Walaupun kita punya keinginan yang besar usahakan pikiran dan hati kita tetap tenang, damai, senang dan tidak perlu terburu-buru.

- Pastikan selalu ada damai dalam hati anda.

Saat melakukan komunikasi subyektif pastikan tidak ada kebencian, ego, iri hati, atau dendam. Hilangkan perasaan serakah atau keinginan ingin memanfaatkan orang lain. - Harus sabar.

Hampir sama dengan apa yang disebutkan di atas, saat melakukan komunikasi subyektif harus sabar. Jangan terburu-buru ingin cepat selesai. Lakukan dengan santai dan dengan ketenangan.

- Harus yakin.

Hal yang penting untuk diperhatikan adalah kita harus benar-benar yakin dengan komunikasi subyektif. Jangan anda keraguan. Karena keraguan, walaupun hanya sedikit, dapat menggagalkan tujuan yang ingin dicapai. Di sinilah dibutuhkan “iman”, yaitu anda harus percaya dengan komunikasi subyektif yang anda sudah praktekan.//

 

  • Share:

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT