Pelet, Ilmu Kuno yang Masih Banyak Dipraktikkan

Jengasih.com - Meskipun sudah terbilang kuno, cara mendapatkan pasangan dengan pelet masih dilakukan banyak orang. Cara ini didasarkan atas ilmu telepati, yakni mempengaruhi pikiran dari jarak jauh. Pelet bisa bikin lengket, mantranya menumbuhkan kerinduan yang mendalam.

Praktik semacam itu menurut konsultan spiritual Jeng Asih, masih tetap ada.

Dulu, ilmu ini tumbuh subur lantaran sifat hubungan antar muda-mudi masih tertutup dan malu-malu. Maka tatkala seorang perjaka ada rasa dengan seorang gadis, ia pergi ke orang "pintar" untuk meminta srono.

Lalu, mantera pun ditiupkan ke suatu benda. Ketika benda itu diletakkan di suatu tempat dan tanpa sadar wanita tadi melangkahinya, pengaruh pelet pun bekerja. Sang wanita kelimpungan di hadapan sang perjaka.

Memang cukup sukar dipahami. Namun menurut Jeng Asih, cara kerja pelet atau aji pengasihan ini melewati suatu proses. Tidak otomatis mencapai target. Pada mulanya orang yang dipelet tak merasakan dampak apa pun. Tapi ketika pulang ke rumah, terjadi getaran yang tidak tertahankan. Ia mulai teringat (pada yang memelet - Red.) dibarengi dengan kerinduan. Semakin lama ditahan, kegelisahan semakin menjadi-jadi. Ini mendorong kedua insan itu untuk segera bertemu.

Orang yang terkena pelet akan gelisah dan teringat terus-menerus. Sejalan dengan semakin menguatnya pengaruh pelet, muncul keinginan untuk bisa bertemu empat mata.

Bagaimana jika orang yang dituju tidak suka? "Tetap saja pada orang yang dituju itu akan timbul rasa cinta. Ibaratnya sudak terkena tembakan laser," kata Jeng Asih. "Soalnya, pelet menggunakan kekuatan pikiran. Tinggal memfokuskan pada target, maka terkenalah sasaran itu."

"Pelet itu ada yang ilmu putih dan ada yang hitam. Itu tergantung dari cara memperoleh dan penggunaannya. Kalau dipakai untuk tujuan tidak baik, itu berarti ilmu hitam," terang Jeng Asih, paranormal yang memiliki spesialisasi untuk mendongkrak aura para selebritis.

 


Pelet jika digunakan untuk tujuan baik, lanjutnya, yaitu ujungnya adalah pernikahan dengan jalan mengharap ridho Sang Khalik tentu baik. Namun ada juga pelet yang digunakan untuk balas dendam.

"Ada yang minta ilmu pelet karena untuk tujuan balas dendam, karena pernah ditolak, disakiti atau dihina, nah ini yang tidak baik. Pelet-pelet ini biasanya bersekutu dengan setan," terangnya.

Sember Pelet

Dalam praktiknya, ada beberapa bentuk karekteristik ilmu pelet. Ajian atau mantra-mantra yang merupakan gabungan dari amalan dalam agama seperti berpuasa, zikir, dan membaca gabungan lafadz tertentu yang diambil dari ayat Alquran. Dalam konteks ini, ilmu pelet kadang disebut sebagai ilmu 'lil mahabbah jauzun' atau ilmu pengasihan.

Kemudian, ada juga ilmu pelet dan pengasihan yang mantranya berdasarkan dari ilmu-ilmu kejawen kuno. Salah satunya yang terkenal sejak zaman Mataram Kuno adalah ilmu Gendam Asmaradhana. Ilmu itu berasal dari Kidung Asmaradhana yang awalnya berisi mantra atau pitutur luhur yang biasa ditembangkan dari pagelaran kesenian khususnya wayang kulit, sampai dengan menunggu kelahiran sang jabang bayi.

Namun tetap saja, berhasil tidaknya ilmu pelet itu selalu kembali kepada si pelaku. Karena mempraktikkan ilmu ini harus disertai dengan kesungguhan hati, dan kekuatan batin.

Tidak semua mantra boleh sembarangan diucapkan. Beberapa mantra tertentu bisa berbalik kepada si pemakai jika dia gagal memenuhi syarat yang ditetapkan. "Itu mantra beresiko bagi si pelaku, si pelaku bisa jadi stres atau gila," pesan salah satu spiritualis yang dimintai pendapat oleh LIBERTY.

Ilmu Hikmah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelet berarti kata-kata manis untuk mengambil atau memikat hati orang lain.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta, Syamsul Ma'arif mengatakan, istilah pelet itu hanya pada istilah masyarakat saat ini. Syamsul menjelaskan, dalam Islam juga mengenal istilah yang serupa. "Dalam dunia pesantren dikenal istilah mahabbah, ya kurang lebih seperti pelet itu maknanya, tapi makna yang lebih luas berarti kasih sayang," kata Syamsul.

Syamsul menjelaskan, mahabbah itu berusaha memikat lawan jenis dengan merapalkan doa kepada Allah. Berdoa dengan ayat-ayat yang khusus dan amalan tertentu agar hati orang yang diinginkan bisa takluk. Meski begitu, menurut Syamsul, dalam Islam hal yang terkait dengan memikat hati orang lain masih menjadi perdebatan ulama.

Namun, menurut Syamsul, ada beberapa kitab yang menjelaskan tentang mahabbah itu sendiri. Bahkan menjadi pembahasan yang familiar dalam dunia pesantren. "Salah satunya dalam kitab Khazilanatul Abrar, karya Imam Al Ghazali juga membahas tentang mahabbah," ujar Syamsul lebih lanjut.

Syamsul memberikan contoh doa yang dianggap bisa untuk memikat orang lain dan menurutnya doa itu sangat populer di kalangan pesantren. "Yuhibbunahum kahubbillahi walladzina amanuu asyaddu hubban lillahi, law anfaqta ma fil ardi jami'a ma alafta baina qulubihim wa lakinnaloha allafa bainahum innahu 'azizun hakim, wa alqoytu alaika mahabbatan minni wa litusna'a 'ala aini," kata Syamsul merapalkannya dengan lancar.

Menurut Syamsul, inti dari doa itu bisa memancarkan aura kasih dan sayang. "Substansi doa itu intinya agar orang lain menyayangi kita," ujar Syamsul menjelaskan lebih lanjut. Selain itu, menurut Syamsul, amalan membaca surat Yusuf dalam Alquran juga sering digunakan untuk memikat hati orang lain atau lawan jenis dan banyak doa atau ayat khusus lainnya.

Meski doa itu sangat familiar dan bisa dibaca oleh siapa saja, menurut Syamsul, ada amalan-amalan yang lain yang harus dilakukan. Syamsul tidak merinci jelas, apa saja amalan-amalan pendukungnya. "Pada intinya untuk memikat orang lain itu dengan cara berdoa kepada Allah, bukan dengan meminta bantuan kepada setan atau jin," ujar Syamsul lebih lanjut.

Menurut Syamsul, memikat hati orang lain atau lawan jenis tentu harus dilandasi dengan niat yang baik. Dia mencontohkan, bagaimana memikat hati seorang lawan jenis yang tujuannya untuk menikah dan membangun rumah tangga yang diridhai Allah.

Sedangkan mengenai kemujarabannya, Syamsul tidak bisa memastikan. Dia menuturkan, kebetulan dia tidak pernah menggunakan rapalan semacam itu untuk memikat hati orang lain. "Saya menggunakan cara yang formal saja, tidak menggunakan doa atau rapalan khusus," ujar Syamsul lebih lanjut.

Lebih lanjut, Syamsul menjelaskan, mujarab atau tidaknya ayat itu, tergantung kehendak yang maha kuasa. Namun menurut Syamsul, semuanya bisa saja terjadi atas kehendak Allah. Bagi Syamsul, bahkan ada doa yang dikabulkan, meski untuk kejahatan sekali pun.

Syamsul menambahkan, hal yang terkait dengan mahabbah atau memikat hati orang lain masuk disebut sebagai ilmu hikmah. "Ilmu yang tidak pernah masuk secara akal dan logika, tapi memiliki bukti yang nyata," pungkasnya.//cw

 

  • Share:

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT